Jumat, 31 Mei 2013

Obsolete Omelette

"Anak saya memang begitu..
Sudah bisa menahan rasa sakitnya dari kecil
Siangnya bermain dan tertawa
Sorenya dia menulis diary, masih saya simpan tulisannya
Malamnya kadang dia menangis, berpura tidur saat saya tengok
Dan paginya ceria lagi."

Saya ga pernah tahu bahwa Ibu tahu segala hal yang saya sembunyikan.
Selama 21 tahun hidup saya.

"Ibu ga pernah tahu kenapa kamu nangis
Hanya merasa kalau kamu kesepian
Ibu sempat takut, kamu ga bisa survive di Jakarta
Ternyata kamu bisa
Kamu sekarang mandiri dan dewasa"

Itu semua karena saya mau jadi anak Ibu
Mau jadi anak ayah
Ayah dan Ibu itu kuat.

"Sudah, sudah cukup bikin omelettenya
Omelette kamu udah enak sekali.
Nenek udah pergi, jangan cari lagi rasa omelette seperti buatan nenek.
Biar Ibu yang bikinin walau beda rasanya."

Omelette bikinan Nenek yang udah ga ada, udah ga ada lagi rasa yang seperti itu.
Omelette buatan Ibu enak.
Aku mau bikin yang rasanya sama seperti buatan Nenek.
Bukan karena omelette Ibu ga enak,
Aku mau Ibu merasa perempuan yang Ibu sayang, sebagian darahnya ada di aku.
Ga pernah pergi. 
Aku bisa terus mencoba, sampai menemukan rasa yang sama.

***

ucapan Ibu yang ingin saya abadikan sedikit.
Terlintas begitu saja

Omelette saya kian usang


Selasa, 21 Mei 2013

Terima Kasih, Ayah. Terima Kasih, Ibu.

Saya melihat foto sepasang suami istri di samping televisi di kamar kos saya.
Sang suami tampak gagah berdiri tegap dengan senyum yang terukir tegas, rambut hitam, dan mata keabuan.
Sang istri duduk menyilangkan tangan senyumnya sangat menenangkan dan garis matanya yang luar biasa cerah.

Itu foto ayah dan ibu saya belasan tahun yang lalu..

Kembali saya melihat telepon genggam saya yang tersimpan dengan rapih foto  keluarga saya.
Kini tampak rambut putih yang banyak menghiasi rambut ayah saya.
Guratan halus yang mulai tumbuh banyak di wajah ibu saya.

Kembali saya berfikir..

Kedua orang tua yang saya cintai tidak selamanya muda.
Ayah saya, tidak akan selamanya mampu melindungi saya.
Ibu saya, tidak akan selamanya mengingatkan saya untuk rutin makan agar sakit maag saya tidak kambuh.

Ayah saya yang jarang menelepon saya, yang jarang saya dengar suaranya, yang jarang saya suarakan kata-katanya.. Namun satu hal yang saya tahu pasti, nama saya selalu ada di setiap do'anya. Setiap saat. 
Saya takut ayah pergi.

Ibu saya yang tidak pernah absen menanyakan kabar, yang kadang timbul perilaku manja saya kepadanya mengadu tentang hal ini itu. Yang masakannya adalah makanan surga yang diturunkan ke dunia.
Saya takut tidak bisa mengadu lagi pada ibu.

Saya mau minta maaf..

Minta maaf karena apa yang ayah dan ibu harapkan dari saya mungkin tidak sepenuhnya bisa saya laksanakan.

Minta maaf karena penjagaan yang ayah dan ibu lakukan untuk saya mungkin sia-sia adanya.
Bukan, bukan karena ayah adalah ayah yang tidak baik.
Bukan karena ibu adalah ibu yang tidak perhatian.
Melainkan karena saya sendiri yang terlalu banyak tenggelam pada dunia yang saya buat bersekat terlalu banyak.

Ayah, Ibu.
Semua pemaafanmu kepada saya adalah luar biasa.
Bagaimana bisa saya menyakiti kalian saat kalian tidak melihat?

Ayah dan ibu.
Ayah dan ibu saya.
Ayah dan ibu nomor satu di dunia.


Dan maafkan saya,
Karena tidak bisa menjadi yang nomor satu untuk ayah, dan untuk ibu.

I Love You.

Senin, 20 Mei 2013

Belajar Jadi Manusia, Dari Manusia

Halloo!
Setahun! Akhirnya acara yang sudah direncanakan selama setahun terakhir bersama teman-teman seangkatan sejurusan selesai juga kemarin, 19 Mei 2013.

Yep! INDUSTRIAL EXPO 2013 yang mengangkat tema "Foodievaganza".
Acara bazaar makanan dengan live music dengan guests star Maliq & D'Essentials, Gugun Blues Shelter, Soulvibe, Soul of Magnolia, Thrifty, Andira, and more! Rame banget!

Acara ini merupakan acara yang cuma diadain sekali, per angkatan.
Dana yang dibutuhkan pun engga sedikit, bener bener harus cari kemana-mana. 
Mulai dari donatur, iuran panitia, proposal sponsorship kesana kemari. Selama setahun! Dan mengkoordinasikan puluhan kepala panitia dalam event ini bukanlah hal yang mudah sama sekali.
Dan saya secara pribadi bersyukur mengingat acara ini bisa selesai dengan lancar dan kabarnya. Surplus. :))

Oke, jadi saya tergabung dalam kepanitiaan sebagai salah satu staff humas yang bertanggung jawab atas hubungan dengan masyarakat diluar dan mengkoordinir kedatangan para undangan pas hari H. Setelah itu, free job. Dan lanjut ke bagian Ticketing. Standby di ticket box untuk melayani pelanggan kami yang ingin beli tiket on the spot.

Disinilah cerita dimulai..

Saya bertemu banyak orang disini.
Salah satu yang paling berkesan adalah...

Bapak bapak separuh baya yang bertanya tentang acara yang kami adakan, dan setelah kami jelaskan,
beliau diam sejenak....
kemudian nyeletuk dengan sangat lantangnya...

"bagusan juga Tukul!!"
"Hah? Apa pak?"
"Lah iya! Iya kan! Bagusan juga Tukul! Berbobot!!"

Aduh. Kratak. Hati saya langsung patah rasanya.

Seolah saya abis melahirkan anak dan anak saya langsung dikata-katain cacat. Ergh.

Okelah itu masalah selera, tidak masalah
Masalahnya adalah, tidak perlu kan mencela selera orang yang memiliki selera berbeda dengan anda.

If you can not accept others tastes or likes, keep silent! 
Be human. Do you have a heart, don't you?

Oke, itu satu.

Lalu.. Saya gak ngerti kenapa orang-orang yang bilang "inshaallah" akan datang malah ga ada satupun yang datang.
Buat saya, "inshaallah" itu janji :(
Kalau cuma bilang itu karena ga enak, sumpah engga usah.
I better take the "kemungkinan besar tidak bisa", "saya kurang tertarik", atau "saya tidak bisa" answers sekalian. Sumpah.

Don't lie.. Don't lie dengan menggunakan nama Tuhan. Terserah jika masih mau begitu, tapi jangan lakukan itu kepada saya lagi ya. Irritating!

Okelah.. Saya belajar dari situ.
Belajar kalo saya manusia, saya bisa merasa.

Benar adanya kalau kata-kata itu seperti dua mata pisau. Bisa berjasa, bisa pula menyakitkan.

Kita, manusia..
Diberi senjata.
Senjata yang ada didalam otak dan hanya sebatas terbuka atau tertutupnya mulut kita.

Be human, put yourself in many perspectives before you talk..

We are human, we may feel.
We can feel, right?

Tapi semua yang ga enak itu terobati dengan banyaknya senior dan juga para undangan kami yang lain yang murah hati dan meringankan langkahnya untuk datang.
Juga para penyewa stand yang mau memengerti atas hadirnya cuaca kurang bersahabat yang ada diluar ekspektasi kami.
Dan saya bahagia bisa ikut serta tergabung dalam penyelenggaraan acara ini kurang lebih setahun sebelum saya selesai berkuliah disini dan pergi lebih jauh lagi mengejar apa yang telah saya cita-citakan.

Terima kasih teman-teman. Terima kasih semuanya!

Industri 2010!
Industri Satu! Industri Maju!







Selasa, 14 Mei 2013

Satu

Sudah saatku berbalik,
Ini cukup.

Pejamkan saja mata
Biar tak ada jingga
Biar ada hitam biar ada merah

Tuhan, 
Aku hanya minta satu,
Satu saja.

Sulitkah?

Kamis, 02 Mei 2013

My Sweetest Dream

Do you have a dream?
I have, the sweetest one.
It doesn't important for me to have it real, but..
It strengthen me a bit,
Make me smile. Even in the worst condition. Really sweet, ngebayanginnya aja udah bikin senyum senang, padahal engga nyata.
Hahaha. Konyol sih, tapi menyenangkan.


This dream is really sweet..
I just imagined that,

There is a room. Me inside the room.
Kaya kamar tidur, cat nya warna pastel..
Didalamnya ada banyak balon hidrogen yang nempel ke langit-langit kamar.
Di temboknya ada banyak foto candid gue.
Ada ratusan sketsa wajah gue ditempel, diatur dengan sangat baik ditemboknya (yang ini suka banget!)

Ada cupcake (hahaha ga ngerti kenapa ada cupcake, padahal ga suka, ya pokoknya menyenangkanlah!)
Ada kasur, ranjangnya rendah, double size, spreinya putih..
Ada teddy bearnya.
Jendela kamarnya besar, sinar mataharinya masuk, hangat.

Gitu doang sih, nyaman.
Nyaman, lalu jadi menyenangkan.

Mungkin itu namanya daydreaming, bukan mimpi. Yah tapi sweet banget rasanya.
Ga perlu jadi nyatapun, udah bikin senang. Aneh ya?

Mimpi terindahmu apa?