Sang suami tampak gagah berdiri tegap dengan senyum yang terukir tegas, rambut hitam, dan mata keabuan.
Sang istri duduk menyilangkan tangan senyumnya sangat menenangkan dan garis matanya yang luar biasa cerah.
Itu foto ayah dan ibu saya belasan tahun yang lalu..
Kembali saya melihat telepon genggam saya yang tersimpan dengan rapih foto keluarga saya.
Kini tampak rambut putih yang banyak menghiasi rambut ayah saya.
Guratan halus yang mulai tumbuh banyak di wajah ibu saya.
Kembali saya berfikir..
Kedua orang tua yang saya cintai tidak selamanya muda.
Ayah saya, tidak akan selamanya mampu melindungi saya.
Ibu saya, tidak akan selamanya mengingatkan saya untuk rutin makan agar sakit maag saya tidak kambuh.
Ayah saya yang jarang menelepon saya, yang jarang saya dengar suaranya, yang jarang saya suarakan kata-katanya.. Namun satu hal yang saya tahu pasti, nama saya selalu ada di setiap do'anya. Setiap saat.
Saya takut ayah pergi.
Ibu saya yang tidak pernah absen menanyakan kabar, yang kadang timbul perilaku manja saya kepadanya mengadu tentang hal ini itu. Yang masakannya adalah makanan surga yang diturunkan ke dunia.
Saya takut tidak bisa mengadu lagi pada ibu.
Saya mau minta maaf..
Minta maaf karena apa yang ayah dan ibu harapkan dari saya mungkin tidak sepenuhnya bisa saya laksanakan.
Minta maaf karena penjagaan yang ayah dan ibu lakukan untuk saya mungkin sia-sia adanya.
Bukan, bukan karena ayah adalah ayah yang tidak baik.
Bukan karena ibu adalah ibu yang tidak perhatian.
Melainkan karena saya sendiri yang terlalu banyak tenggelam pada dunia yang saya buat bersekat terlalu banyak.
Ayah, Ibu.
Semua pemaafanmu kepada saya adalah luar biasa.
Bagaimana bisa saya menyakiti kalian saat kalian tidak melihat?
Ayah dan ibu.
Ayah dan ibu saya.
Ayah dan ibu nomor satu di dunia.
Dan maafkan saya,
Karena tidak bisa menjadi yang nomor satu untuk ayah, dan untuk ibu.
I Love You.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar