Kamis, 20 September 2012

The Box of Hopes

Kotak harapan,
Kotak sepatu warna merah tua, persegi panjang. Gue simpan di atas lemari baju atau di kolong kasur.

Ga tau sejak kapan gue simpan semua mimpi yang gue pilih untuk engga gue wujudkan di dalam situ,

Semua,
Tentang cinta,
Cita-cita.
Semua yang mau gue simpan untuk gue sendiri, buat gue buka di kemudian hari dengan pandangan abu-abu, pandangan gue yang sepenuhnya ada di dalam kotak merah itu,

Buat gue sendiri,
Buat ingetin that life is sacrifice,
Prinsip yang gue pegang dari dulu kalo hidup, gue ga boleh bikin orang-orang yang gue sayang.. Berkorban terlalu banyak buat gue, meskipun mereka mau dan engga keberatan. Harus gue yang berkorban, dengan cara apapun. Walau akhirnya, gue yang dibenci.
Karena pada akhirnya.. Gue yang tau, hidup mereka bakal jauh lebih baik dari gue.

Juga kotak merah yang ingetin, hidup itu.. Buat ego. Karena gue memilih untuk pergi ke tempat yang ga gue ketahui sama sekali, dan bikin kenangan baru disitu. Tapi lagi-lagi balik jadi abu, gue ga bisa pergi.

Sampai saatnya gue angkat kepala dan simpen lagi box itu, yang gue sadari., gue sendirian.

Gue homeless, bahkan ga ada satupun bahu yang gue rasa bisa gue pinjem sebentar.
Sejak itu gue tau, gue ga boleh sedih, karena kalo sampe gue nangis, ga ada yang hapus air mata gue.
Karena tangan gue sendiri, terlalu sibuk untuk menghapus punya orang lain.

Tuhan,
Kalo emang mimpi itu tidak digariskan untuk jadi nyata..

Kenapa Engkau membiarkan aku untuk bermimpi? Dan menjadikan itu satu-satunya mimpi yang kupunya sekaligus engga bisa aku raih.

Tuhan,
Kotakku sudah penuh.
Dengan benda berwarna abu.

Jumat, 14 September 2012

I'm Smart, I'm Stupid

Setiap orang punya bakat dan kesukaannya masing-masing.
Dan percaya ga percaya hal itu ternyata cukup untuk jadi alasan bagi orang-orang tertentu buat underestimating orang lain yang ga punya bakat atau kesukaan kaya dia.

As an example..
Gue kuliah di teknik, dimana pastinya gue harus pahan betul apa itu science, teknologi, juga ilmu sosial, karena di Teknik Industri tempat gue kuliah, manusia jadi salah satu komponen yang dibahas dan dipelajari perilakunya

Ada juga yang kuliah di jurusan yang berhubungan dengan memasak, sekolah koki misalnya. Dia belajar soal rasa. Juga gimana cara menyajikan makanan dengan cantik dan menarik agar menggugah selera, gitu lah kurang lebih.

Dan sebenernya. On my point of view nih, kesuksesan itu tergantung dari art-nya. Dari seni gimana kita hidup dengan menjalani ilmu yang kita perdalam. Bukan dari JURUSAN. Pada dasarnya yang mampu membuat orang berkembang pikirannya terhadap inovasi itu ya tergantung dari segi gimana mereka mikir.
Makin nyeni, makin kritis, makin pengen tau, makin pengen create something different yang belum di-invent oleh indivindu manapun di seluruh semesta ini.

So, lo boleh, malah tolong! Bilang gue bego kalo gue secara sadar maupun engga terlihat underestimating another by their proffesion hanya karena gue jago di satu bidang doang.

Seorang insinyur, ga boleh merendahkan koki koki keren itu yang udah memenuhi kehausan akan art mereka terhadap makanan.

Dan koki koki keren itu juga ga boleh ngrendahin insinyur yang udah memenuhi kehausan art mereka tentang teknologi.

Bagaimanapun pada akhirnya semua orang bisa milih apapun yang mereka sukai.

Insinyur ga seharusnya memperdalam ilmu masak memasak, tapi kalo suka ya lakukan saja. Kalo ga suka, ya ga usah ngrendahin.. Lo juga kalo diadu sama si koki belom tentu bisa masak enak dan bikin makanan yang cantik toh?

Koki ga seharusnya ngerti teknologi, tapi kalo suka ya ga ada yg ngelarang buat memperdalam itu.

Manusia tuh udah terbatas, jangan bikin batasan-batasan lain lagi.

Hargai bakat masing-masing. Diem. Nikmatin bakat orang. Dan bikin bakat kita juga bisa dinikmati.


Kita semua sedang ART-ing. Cuma beda aja caranya.

Ayo tertawa bersama!