Kamis, 20 September 2012

The Box of Hopes

Kotak harapan,
Kotak sepatu warna merah tua, persegi panjang. Gue simpan di atas lemari baju atau di kolong kasur.

Ga tau sejak kapan gue simpan semua mimpi yang gue pilih untuk engga gue wujudkan di dalam situ,

Semua,
Tentang cinta,
Cita-cita.
Semua yang mau gue simpan untuk gue sendiri, buat gue buka di kemudian hari dengan pandangan abu-abu, pandangan gue yang sepenuhnya ada di dalam kotak merah itu,

Buat gue sendiri,
Buat ingetin that life is sacrifice,
Prinsip yang gue pegang dari dulu kalo hidup, gue ga boleh bikin orang-orang yang gue sayang.. Berkorban terlalu banyak buat gue, meskipun mereka mau dan engga keberatan. Harus gue yang berkorban, dengan cara apapun. Walau akhirnya, gue yang dibenci.
Karena pada akhirnya.. Gue yang tau, hidup mereka bakal jauh lebih baik dari gue.

Juga kotak merah yang ingetin, hidup itu.. Buat ego. Karena gue memilih untuk pergi ke tempat yang ga gue ketahui sama sekali, dan bikin kenangan baru disitu. Tapi lagi-lagi balik jadi abu, gue ga bisa pergi.

Sampai saatnya gue angkat kepala dan simpen lagi box itu, yang gue sadari., gue sendirian.

Gue homeless, bahkan ga ada satupun bahu yang gue rasa bisa gue pinjem sebentar.
Sejak itu gue tau, gue ga boleh sedih, karena kalo sampe gue nangis, ga ada yang hapus air mata gue.
Karena tangan gue sendiri, terlalu sibuk untuk menghapus punya orang lain.

Tuhan,
Kalo emang mimpi itu tidak digariskan untuk jadi nyata..

Kenapa Engkau membiarkan aku untuk bermimpi? Dan menjadikan itu satu-satunya mimpi yang kupunya sekaligus engga bisa aku raih.

Tuhan,
Kotakku sudah penuh.
Dengan benda berwarna abu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar