Kamis, 07 Januari 2016

"Life is Never Flat," He Said

I love my life to be as flat as possible.

Like..
Everything will go as I wish, following my plan..
Not because I don't prepare to fail.
I do prepare to fail, I prepare how to act upon my failure. How to face it when that kind of time is coming.

But then again, life can be so tricky.
They can bend you here and there.
Even if you try to breakthrough the hole in your plan, life is just slip away like a flowing water.

Then again you stand, stand still. Feel like a fool, when all of your plan scarce everywhere, but no..
It is not because life do a bad thing to you,
Life just want to tell you that it will never flat, it never is.
That you can not just live it like a zombie.
That it is eventually a process to move from one to another crisis.

It is just like when you know how happy you are by being alone but at the same time you realize that you also a lil bit cold and lonely inside.
Then you choose that being alone is a better thing for you rather than stay with a bad companion.
You made it for so long, then life fucked you up again.
You fall in love with someone that you can not be with.

Or is it just like when you have your hopes high
When you decide that you will try as hard as you can to chasing your dream,
When the dream is so near in front of you,
That you put your everything on it,
But life just disagree and it feels like that life said "your good is not good enough"

You know what?
I will not surrender even if people going to understand why I want to.
I will not laid back until I learn something and gain more value for myself, for my future.
I know I know I know that every moment in this time anyone can knocked me down like before, but now I'm ready to crawl. I even ready to step back if that will make me jump further.

I want it. I want it as bad as I want to breathe.
If it is not happen tomorrow then I'll work it out to make it work in the near future.

I know I like my life to be as flat as possible.
But it already is not flat right now, then go on.
I will set myself curl.
I have what I need the most, that He is never leave me and I belive in His promise.
Come on break me down and punch me up.
I'm standing and fall but I'm ready to crawl.



Selasa, 14 Juli 2015

When You Know How to Laugh at Yourself from Time to Time



“Life is a tragedy when you see it close up, but a comedy when you see it in the bigger picture.” Charlie Chaplin


Inget cerita tentang orang yang bikin jokes dan berhasil bikin semua penonton yang di ruangan tersebut ketawa tapi begitu jokes itu diangkat lagi penonton ngerasa itu udah ga lucu lagi sampai akhirnya ada yang nanya :

“Kenapa ngulang jokes yang sama? It is not funny anymore.”

Dan kemudian orang tersebut jawab :

“Kita ga bisa terus ketawa untuk satu jokes yang sama, tapi kenapa kita terus sedih karena satu masalah yang sama?”?

At first, waktu gue tau tentang cerita itu gue ngerasa “ah iya juga”.
Tapi seiring waktu, gue ngerasa cerita itu rasanya terlalu menggampangkan rasa sedih yang terus timbul karena satu alasan yang sebenernya itu itu aja.
Pada kenyataannya menghadapi permasalahan dalam hidup belum pernah semudah itu.

Pertanyaan yang kemudian timbul di pikiran gue adalah : 

“Oke fine manusia seharusnya emang ga terus terusan sedih karena satu alasan yang sama, gue terima dulu kalimat itu. Tapi GIMANA caranya?”

Lalu gue inget ucapannya Charlie Chaplin yang tadi jadi pembuka tulisan gue, ya itu jawabannya.

See the bigger picture. See the comedy. Laugh at yourself.

Dengan ngetawain diri sendiri, kita ngetawain keputusan yang kita buat,
kita ngetawain kenapa kita bisa bikin keputusan itu,
kita ngetawain kenapa bisa kita milih satu hal itu diantara sekian banyak pilihan,
dan kita bisa ngetawain diri kita yang mikir bahwa apa yang kita lakukan saat itu bukanlah yang terbaik tapi malah yang terburuk.

Padahal kita adalah manusia yang selalu merasa paling pintar dan menempatkan posisi kita di tingkat teratas rantai makanan.

Birds did not make that hierarchy, we did.

Yet, it flies beyond the sky and we are the one that learning from them.

Ketawain diri sendiri karena dari situ kita bisa belajar.

Dan belajar hanya perlu dilakukan dengan satu hal kecil yang cuma diri kita aja tau, what is that?

Berfikir.

Kalo kita mau berfikir, pelajaran yang mau kita tau bisa kita mulai dari udara yang bahkan ga bisa kita liat warna dan bentuknya,
tapi kita yakin kalo udara itu ada,
kita yakin udara itu ada karena kita hidup,
karena kalo udara ga ada kita ga bakal hidup
(mau nafas make apa?)

Manusia itu serba telat.

Manusia memiliki satu kemewahan yang ga bakal bisa dimiliki bahkan oleh orang terkaya sekalipun.

What is that?
TIME, sir. TIME.

Banyak pendapat bilang bahwa hidup ini adalah ujian.
Ujian yang sifatnya sementara tapi hasilnya kelak akan permanen.

If life is really is a “test”, why the only time left for us to learn is when the “test” begin? 

Dimana mana belajar itu dilakukan sebelum ujiannya berlangsung kan,
karena udah terlambat lah kalo belajar pas lagi ujian (apalagi ujiannya closed book),
ga cukup waktunya.

Udah mulai bingung belum?
Gue sih udah, ini udah cengok dua puluh menit. Capede :p

Mentok.
Kalo udah bingung, yang terjadi selanjutnya adalah mentok.
Mencapai saturation point yang kita ga ngerti lagi “mau diapain lagi nih hidup gue masa gini gini aja” phase.

Wakakak.

Sering banget kaya gini,
ya anggep aja lagi jatoh menghadap tanah rata yang banyak batunya (posisi terendah manusia yang biasanya terjadi secara tidak sengaja).
Kalo orang jatoh cukup keras sampe perlu waktu lama buat bangun atau malah ga bisa bangun sendiri,
harus dibantuin orang saking parah jatohnya.
Biasanya pasti ngebekas luka, baret lah, sobek lah,
walaupun bakal sembuh tapi sakitnya lumayan lama,
baretnya bisa jadi ilang tapi bisa juga ngebekas seumur hidup.
Mau ngomelin batunya juga batunya ga bisa dengerin ga bisa jawab dan ga berkutik,
mau ngomel ke diri sendiri juga kok malah nambah kesel,
ya udah ketawain aja kok bisa bisanya jatoh dengan posisi begitu hahaha (malu lah pasti).

Akhirnya si luka membekas,
lukanya diliatin terus pas mandi, pas cuci tangan, pas pake body lotion, pas luluran, pas mau ngupil,
akhirnya alam bawah sadar tersugesti bahwa kalo lewat jalan itu jalannya harus angkat kaki dikit biar gak kesandung lagi.
Kalo udah gitu, boleh deh ngomong sama batunya 

“ye sorry ya udah ga kena tipuan lama”

kurang lebih gitu lah proses belajar,
dimulai dari berfikir yang ringan ringan aja karena kalo berat udah ada ahlinya masing masing.

Really.
Ilangin gengsi, ketawain diri sendiri,
lebih asik kalo bisa nemu temen yang juga pandai diajak ngetawain diri masing masing barengan!
(orang yang bisa ngetawain dirinya sendiri dan mengoreksi dirinya sendiri itu adalah orang yang smart, dan bermain sama orang yang smart itu adalah bermain sambil belajar, which is fun!),
celetukannya justru bisa jadi bahan belajar,
bahan belajar yang ga kita dapet karena ga kita alamin (karena ga ada satu orang pun di dunia ini yang pernah ngalamin hal sebanyak kemungkinan dalam nilai Phi)

So..
Let we see the bigger picture in our problem.
Find the comedy for every situation (it can be slapstic, satire, farce, anything..)

Learn why is it can be both obvious and funny at the same time when we did that

Laugh at our own bad decision and all the complain we make for it

Because life is a lot more friendly when you know that you are just a fool that rich in emotion but also running out of time, full of weakness, and that weaknesses make you laugh because you try a thousand time to make that as your strong point.

No, we don’t need to. Just take it and admit it, fix it everyday.

Now, you are strong that way.

Kamis, 08 Januari 2015

The Calling

Rutinitas petang baru setiap hari.

Make a call, buat diri sendiri.

Dan kata-kata yang keluar ternyata adalah permintaan-permintaan maaf.

Permintaan maaf karena ga cukup kuat hari ini.
Permintaan maaf ke orang tua karena mungkin ga bisa ngasih apa yang orang tua saya mau dan harapkan dari saya karena -sayanya- yang ga yakin bisa percaya sama orang untuk hal satu itu.
Permintaan maaf ke kakak karena ga bisa jadi perempuan yang sebaik dirinya, setegar apa yang dijalaninya.
Permintaan maaf ke diri sendiri karena harus ngelewatin ini sendiri, dan memang rasanya lebih baik begitu.
Permintaan maaf ke teman-teman karena sekuat apapun mereka ngulurin tangan buat menopang, saya yang menjauh.
Permintaan maaf karena yang bisa saya bagi cuma jokes garing, maaf karena saya sudah tidak bisa lagi menangis didepan siapapun, sebesar apapun keinginan saya untuk melakukannya.

Saya berhenti bersandar, dan membiarkan mereka yang bersandar pada saya. Hingga saya sadar, justru saya yang akhirnya tidak memiliki sandaran ini, jatuh. Beruntunglah yang dulu bersandar kini bisa berdiri sendiri lagi. I'm proud of you. Saya juga akan berdiri lagi. Segera.

Saya cuma heran, saya ini kenapa?

I can fix someone else that fast, but it takes too long to fix myself.

Tuhan, mau saya itu jalan lagi, lari kalo perlu.
Saya menunggu lewat tangan-tanganMu didunia ini entah lewat siapa dengan apa atau cara yang bagaimana.

Bukankah pertama-tama saya harus mengalahkan diri saya sendiri dulu?


(Nb : nulis ini gara gara baca artikel yang katanya dengan menulis, segala rasa ga enak bisa hilang dengan lebih cepat, we'll see...)

Selasa, 08 April 2014

A Dawn to Remember

Ibu.. Mama.. Bunda..
Apapun panggilannya.
Satu satunya orang di dunia ini yang tidak mungkin ditemukan penggantinya.
Orang yang memiliki tangan paling hangat dan menenangkan.
Orang yang menemani kita saat ini, bagi kita yang beruntung bisa mengenal Ibu, yang belum pernah sedetikpun hidup di dunia yang tanpa beliau.

Ibu yang perasaannya paling ingin kita jaga.
Yang ga terbayang kalau dia tiada, siapa yang menggantikan semuanya.
Ibu, jika bisa kutukar tubuhku yang sehat ini, ingin rasanya aku tukar.

Ibu, kenapa tersenyum? Aku tahu ibu kesakitan.
Ibu, maaf.
Maaf
Maaf
Maaf

Ibu, jangan pergi.
Aku minta maaf, ibu jangan pergi.
Maaf, ibu.

Aku sayang Ibu.
Ibu menangislah, buka mata Ibu.
Teriaklah bu, aku ingin dengar suaramu yang sibuk menyuruhku makan.

Ibu, kenapa membujur kaku? Peluk aku, Ibu. Ibu... Aku sepi tanpa canda Ibu.

Usap kepalaku Ibu, aku gak bisa tidur.

Ibu, buka matamu, aku rindu Ibu, aku sangat rindu sekali.
Ibu kenapa diam saja? Ibu marah? Marahi aku Ibu, jangan diam saja begitu.

Lalu aku bangun, dan kusadari aku sedang bermimpi.
Begini cara Tuhan membangunkanku setiap hari.

Mungkin peringatan kecil dari Tuhan atas perilaku yang kurang baik pada Ibu, pada Ayah.

Atau mungkin karena rasa cintaku pada dunia yang masih terhitung besar.

Atau mungkin petunjuk agar aku segera melaksanakan kewajiban dasar yang belum pula kujalani, yang parahnya... Kusadar itu dosa untukku dan kedua orangtuaku jika tidak kulakukan.

Kuusap wajahku. Kusebut asma-Nya.

Maaf, Ya Allah.
Bimbing aku dalam sepertiga malamku. Sungguh Engkau Maha Pemberi Petunjuk.

Kamis, 03 April 2014

Random Act of Kindness

Subuh sudah...
Melek semalaman mengejar deadline. Hadiah tak terduga yang somewhat menyenangkan, andai stamina tidak terbatas ya.
Stagnasi dengan tugas akhir, oke bahas yang lain.

Random act of kindness...
Ada yang pernah dengar?

Oke buat yang udah dengar, coba diingat.
Yang belum, ini gue jelasin ya...

Gampangnya adalah.
Berbuat baik kepada siapapun, SIAPAPUN.
Gak lihat dia kaya, miskin, muda, tua, lelaki, perempuan.

Gue lagi ngelakuin hal ini,
minimal sekali sehari.
Berbuat baik ke orang, apapun itu.

Kenapa sye?
Ngapain?
Ga kenal juga kan lo sama orangnya...

Hahaha. Kenal lah bro pasti. Dia manusia, hamba Tuhan yang pasti hidupnya mengalami kesusahan walau ga keliatan kan?

Semua bermula dari pengalaman yang gue anggap spiritual dan ngehidupin apa yang selama ini mati di hati gue.

T U G A S  A K H I R
aka
S K R I P S I

Jadi, dikampus gue itu supaya bisa lulus, harus ngadepin 3 tahap sidang.
Nah, tiap semesternya kebagi jadi 2 periode.
Gue masuk periode 1.

Waktu itu dosennya ga bisa ikut jadi presentator buat proposal tahap 1 gue.
Akhirnya ditunjuk lah 1 orang dosen lagi buat jadi co-pembimbing biar gue bisa maju.
Majulah gue sidang proposal tahap 1 dengan co-pembimbing gue.

Pikir gue, gue ambil periode 1 gue bakal bisa kelar 1 semester.
Ternyata kaga, gue perpanjang 3 bulan, jatohnya sama kaya yang periode 2.
Tau gitu ngapain gue ambil co-pembimbing?
Mending waktu itu gue ambil aja periode 2 biar agak santai kuliah gue.

Eh, ternyata......
Pembimbing utama gue cuti 1 semester karena suaminya sakit, diluar perkiraan.
Gue ngebayangin,
Kalo... Kalo gak ada dosen pembimbing pendamping sementara gue sekarang udah ngerjain sampe tengah,
gimana nasib gue. Mana ada dosen yang mau ambil gue kan. Udah ditengah broh!

Dari situ gue ngeh,
Tuhan ngasih bantuan enggak dengan cara yang gue ngerti.
Gue cuma butuh percaya, ga boleh buruk sangka.
Tuhan mau nolong orang, apalagi kalo orang itu mau nolong dirinya sendiri.

Tapi, asal percaya.. Kalo dirunut. Dari gue lahir sampe sekarang.
Tuhan ga pernah salah orang
Ga pernah salah tempat
Ga pernah salah waktu

Ada juga, guenya yang lupa.

Dari situ juga gue ngeh,
Apapun itu, seberat apapun itu, itu pasti baik kedepannya kalo gue berusaha buat nolong diri gue sendiri.
Tuhan ga pernah salah apalagi ketuker ngasih rejeki ke orang.

Gue ngerasa ditolong banget sama Tuhan.

Ga pernah lagi gue prasangka buruk, apapun itu.
Dan gini nikmat banget, bersyukur sama apapun.
Ga takut lagi sama waktu
Ga takut lagi sama orang
Ngerasa punya Tuhan, rasanya melebihi kaya punya segalanya.

Ikhlas.

Dari situ gue belajar,
Kalo Tuhan aja nolong orang kaya gue yang sebelumnya sangat jauh banget sama Dia.
Kenapa gue ga nolong apapun yang gue lihat dan gue bisa tolong?

Berbuat baik itu gampang kok...
Beli barang jualan pedagang asongan di lampu merah (mereka usaha).
Bantu orang nyebrang jalan
Kasih uang lebihan buat tukang parkir
Beli koran di loper koran, borong semampunya

Mindahin selembar kertas yang ada angkanya -kepunyaan lo- kepada orang yang sedang butuh dan juga berusaha, ga bikin lo jadi miskin
Tuhan ngebalikinnya dengan harga yang berlipat dari yang lo kasih ke orang, kalo lo sadar

Kalo diinget semua yang udah Tuhan kasih
Haram rasanya putus asa apalagi bermalas-malasan
Buat apa hidup kalo ga bisa bantu orang

Tuhan kasih gue "lebih" dari kebanyakan orang
Itu artinya gue juga harus kasih "lebih" buat orang lain

Andai dimasa depan diberi rezeki lebih,
Gue mau kerja sosial tiap hari
Countless time
Semampu gue
Jadi agen Tuhan yang baik.

Udah terlalu sakit hati liat kakek nenek masih mondar mandir di jalan raya cari uang sampai petang.
Ga terbayang kalo itu ibu bapak gue.






Rabu, 07 Agustus 2013

Mau Mati?

Jangan berani bilang bosan hidup, kalau gak bisa kau ambil nyawa kau lalu kau kasih ke orang yang lebih butuh.

There's always a reason for everything..
Kenapa kamu punya tangan, kenapa kamu punya kaki, punya mata, punya mulut, punya telinga, punya pikiran, punya rasa.

Gak ada sesuatu yang ada di dunia ini, yang engga ada maksudnya.
Lalu kamu mau apa dengan itu?
Mau sombong?
Mau sombong dengan bilang kamu mau mati aja atau kamu bosan dengan hidup kamu?
Yet you haven't exploring yourself more and more.

Really,
If you know the capacity your body and soul might capable of..
You need more than A LIFETIME to seek and catch it all!
Dan seharusnya itu ga bikin kamu pongah dengan berkata "bosan hidup".

If you want to work and think harder and deeper,
YOU DON'T HAVE A TIME (EVEN A SECOND).. UNTUK MERASA BOSAN.

Hey,
Feel a blessing God sent for you.

You can be a listener (if you want to)
You can be a speaker (if you want to)
You can be a watcher (if you want to)
You can be a doer (if you want to)
You can be a thinker (if you want to)

You can be anything you want to, IF
You are make a commitment with YOU that you will explore yourself..

Don't be afraid of life.
We're all life once.
Make it real.

Kalo sudah merasa terlanjur gak puas dengan diri sendiri yang sekarang..
Coba difikir lagi kalo kamu masih kebangun besok paginya,

"Is there a reason why God wake me up once again this morning? What is it?"
Then, make a change, there's another chance.

Dunia kadang terlalu adil,
Saat ada orang sehat yang sibuk mengeluh dan mau mati..

Disini ada yang terbaring menunggu untuk diberi perpanjangan waktu sedikit lagi.

Kalau alasanmu mengeluh adalah karena manusia selain kamu dan dirimu sendiri,
Tolong,
Jangan lakukan lagi..
Sesempurna dan sebaik apapun manusia itu, tetap.. Wadahnya salah.

Maafkan saja,
Dan berbahagialah.
God sent you from heaven for a reason.
Live it, let it be.

Jumat, 31 Mei 2013

Obsolete Omelette

"Anak saya memang begitu..
Sudah bisa menahan rasa sakitnya dari kecil
Siangnya bermain dan tertawa
Sorenya dia menulis diary, masih saya simpan tulisannya
Malamnya kadang dia menangis, berpura tidur saat saya tengok
Dan paginya ceria lagi."

Saya ga pernah tahu bahwa Ibu tahu segala hal yang saya sembunyikan.
Selama 21 tahun hidup saya.

"Ibu ga pernah tahu kenapa kamu nangis
Hanya merasa kalau kamu kesepian
Ibu sempat takut, kamu ga bisa survive di Jakarta
Ternyata kamu bisa
Kamu sekarang mandiri dan dewasa"

Itu semua karena saya mau jadi anak Ibu
Mau jadi anak ayah
Ayah dan Ibu itu kuat.

"Sudah, sudah cukup bikin omelettenya
Omelette kamu udah enak sekali.
Nenek udah pergi, jangan cari lagi rasa omelette seperti buatan nenek.
Biar Ibu yang bikinin walau beda rasanya."

Omelette bikinan Nenek yang udah ga ada, udah ga ada lagi rasa yang seperti itu.
Omelette buatan Ibu enak.
Aku mau bikin yang rasanya sama seperti buatan Nenek.
Bukan karena omelette Ibu ga enak,
Aku mau Ibu merasa perempuan yang Ibu sayang, sebagian darahnya ada di aku.
Ga pernah pergi. 
Aku bisa terus mencoba, sampai menemukan rasa yang sama.

***

ucapan Ibu yang ingin saya abadikan sedikit.
Terlintas begitu saja

Omelette saya kian usang