Apapun panggilannya.
Satu satunya orang di dunia ini yang tidak mungkin ditemukan penggantinya.
Orang yang memiliki tangan paling hangat dan menenangkan.
Orang yang menemani kita saat ini, bagi kita yang beruntung bisa mengenal Ibu, yang belum pernah sedetikpun hidup di dunia yang tanpa beliau.
Ibu yang perasaannya paling ingin kita jaga.
Yang ga terbayang kalau dia tiada, siapa yang menggantikan semuanya.
Ibu, jika bisa kutukar tubuhku yang sehat ini, ingin rasanya aku tukar.
Ibu, kenapa tersenyum? Aku tahu ibu kesakitan.
Ibu, maaf.
Maaf
Maaf
Maaf
Ibu, jangan pergi.
Aku minta maaf, ibu jangan pergi.
Maaf, ibu.
Aku sayang Ibu.
Ibu menangislah, buka mata Ibu.
Teriaklah bu, aku ingin dengar suaramu yang sibuk menyuruhku makan.
Ibu, kenapa membujur kaku? Peluk aku, Ibu. Ibu... Aku sepi tanpa canda Ibu.
Usap kepalaku Ibu, aku gak bisa tidur.
Ibu, buka matamu, aku rindu Ibu, aku sangat rindu sekali.
Ibu kenapa diam saja? Ibu marah? Marahi aku Ibu, jangan diam saja begitu.
Lalu aku bangun, dan kusadari aku sedang bermimpi.
Begini cara Tuhan membangunkanku setiap hari.
Mungkin peringatan kecil dari Tuhan atas perilaku yang kurang baik pada Ibu, pada Ayah.
Atau mungkin karena rasa cintaku pada dunia yang masih terhitung besar.
Atau mungkin petunjuk agar aku segera melaksanakan kewajiban dasar yang belum pula kujalani, yang parahnya... Kusadar itu dosa untukku dan kedua orangtuaku jika tidak kulakukan.
Kuusap wajahku. Kusebut asma-Nya.
Maaf, Ya Allah.
Bimbing aku dalam sepertiga malamku. Sungguh Engkau Maha Pemberi Petunjuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar