Make a call, buat diri sendiri.
Dan kata-kata yang keluar ternyata adalah permintaan-permintaan maaf.
Permintaan maaf karena ga cukup kuat hari ini.
Permintaan maaf ke orang tua karena mungkin ga bisa ngasih apa yang orang tua saya mau dan harapkan dari saya karena -sayanya- yang ga yakin bisa percaya sama orang untuk hal satu itu.
Permintaan maaf ke kakak karena ga bisa jadi perempuan yang sebaik dirinya, setegar apa yang dijalaninya.
Permintaan maaf ke diri sendiri karena harus ngelewatin ini sendiri, dan memang rasanya lebih baik begitu.
Permintaan maaf ke teman-teman karena sekuat apapun mereka ngulurin tangan buat menopang, saya yang menjauh.
Permintaan maaf karena yang bisa saya bagi cuma jokes garing, maaf karena saya sudah tidak bisa lagi menangis didepan siapapun, sebesar apapun keinginan saya untuk melakukannya.
Saya berhenti bersandar, dan membiarkan mereka yang bersandar pada saya. Hingga saya sadar, justru saya yang akhirnya tidak memiliki sandaran ini, jatuh. Beruntunglah yang dulu bersandar kini bisa berdiri sendiri lagi. I'm proud of you. Saya juga akan berdiri lagi. Segera.
Saya cuma heran, saya ini kenapa?
I can fix someone else that fast, but it takes too long to fix myself.
Tuhan, mau saya itu jalan lagi, lari kalo perlu.
Saya menunggu lewat tangan-tanganMu didunia ini entah lewat siapa dengan apa atau cara yang bagaimana.
Bukankah pertama-tama saya harus mengalahkan diri saya sendiri dulu?
(Nb : nulis ini gara gara baca artikel yang katanya dengan menulis, segala rasa ga enak bisa hilang dengan lebih cepat, we'll see...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar